Pilar adalah tiang penyangah suatu bangunan, jika dalam konteks budaya adalah suatu yang menopang sebuah budaya. Budaya barat sudah dikenal dengan budaya non ketuhanan, kebebasan dalam segala hal. Negara-negara barat saat ini tengah mempromosikan budaya mereka secara gencar kenegara lain.
Pilar bangsa barat ada tiga yang paling fundamental, yang pertama yaitu humanism yang mengasumsikan bahwa manusia yang bergelimang kesenangan, kebahagiaan dan kemudahan adalah valid dan tidak ada selain hal itu baginya yang memiliki validitas. Makna humanism diposisikan secara diametral dengan kecenderungan pada tuhan dan agama.
Doktrin ini menegaskan bahwa manusia harus memikirkan devinisinya sendiri dan semaksimal mungkin merasakan kenikmatan dan kesenagan. Keberadaan tuhan menurut teori ini bukanlah urusan manusia.
Kecenderungan ini bertolak belakang dengan kondisi yang ada sebelumnya, dimana pada abad pertengahan di Eropa jauh sebelum dibelahan bumi bagian timur, perhatian utama umat manusia terfokus hanya kepada tuhan dan masalah spiritual.
Umat manusia, menurut mereka sudah terlalu lelah mengunyah berbagai hal yang berkenaan dengan kebiasaan yang beredar sepanjang abad pertengahan. Ketimbang berkubang dalam doktrin gereja abad pertengahan, mereka menganjurkan seyogyanya kita kembali pada masalah-masalah kemanusiaan, sehingga tak aka nada lagi pembicaraan mengenai segala hal yang berada diluar manusia dan alam semesta ini, khususnya tuhan.
Di Eropa pada penghujung abad pertengahan humanism dirintis dan disuarakan oleh para penulis, dan kalangan sastrawan terkenal dimasanya. Seperti Date (seorang pujangga dan penulis Italia termashur), upaya tersebut untuk mengembalikan kehidupan bangsa eropa kemasa pra Kristen berabad-abad sebelumnya.
Sebelum kedatangan agama Kristen ke Eropa, bangsa Eropa umunya terdiri dari para penyembah berhala. Ketika kedatangan agama Kristen di Eropa menerima ajaran Kristen dalam bentuk penyelewengan dalam agama yaitu doktrin trinitas serta pemasangan patung hadrat Mariam dean para malaikat dalam gereja. Hasilnya gereja-gereja ini menjadi sama dengan kuil-kuil berhala dimasa lalu.
Dengan demikian, agama Kristen di dunia belahan barat tak lain merupakan bentuk adopsi dari agama Kristen awal yang mengantikan politeisme, yang dalam konteks kenegaraan, pemerintahan duniawi yang sama sekali tidak menyandang nilai-nilai spiritual yang berdiri tegak di Eropa atas nama agama Kristen yang mengklaim dirinya berada dibawah aturan ketuhanan, serta meiliki misi surgawi dan samawi.
Dibalik kedok agama Kristen dan slogan-slogan samawi dan surgawi, mereka melakukan berbagai praktik kejahatan, ketidak adilan dan penindasan yang begitu kejam. Sehingga menjadikan orang-orang disana berhasyrat untuk secepatnya kembali pada kehidupan pada masa pra Kristen.
Penyangga yang kedua dari budaya barat adalah sekularisme, setelah masyarakat barat memposisikan manusia sebagai pusat lalu. Lalu seseorang yang punya kecenderungan religious ingin menjadi penyair atau pelukis, maka ia tak akan menghadapi masalah. Tetapi, mereka harus sadar bahwa agama tidak memiliki kaitan apapun dengan persoalan-persoalan kehidupan dan jangan sampai dijadikan prinsip hidup. Sebagaimana halnya syair dan karya sastra, agama juga yang memiliki statusnya sendiri.
Wilayah agama adalah masjid, gereja dan kuil berhala. Persoalan sereius seputar kehidupan berkaitan dengan ilmu pengetahuan, dan agama tidak boleh ikut campur tangan didalamnya, kecenderungan dan pola pikir ini secara umum disebut sekularisme. Yaitu memisahkan agama Dario hiruk pikuk kehidupan duniawi atau dengan kata lain, memikirkan dunia lain ketimbang memikirkan surge sebagaimana diajarkan agama.
Faktanya, perkara-perkara fundamental yang berkaitan dengan kehidupan manusia, khususnya politik, ekonomi dan hukum, berkisar diseputar ilmu pengetahuan, diman agama sama sekali tidak di inginkan untuk ikut campur.
Pilar yang ketiga adalah liberalism, yang sangat mengambarkan bahwa keutamaan hanya dimiliki oleh manusia yang menjadi ukuran segalanya. Manusia harus benar-benar bebas, jangan sampai dikekang dan dibatasi dalam kehidupanya, kecuali jika mereka membutuhkanya. Menurut doktrin liberalisme, manusia harus bebas. Hubungan yang terjalin laki dan perempuan harus bebas sebebasnya. Kecuali dalam kasus ditengah masyarakat, terjadi keributan diantara keduanya yang menjurus pada terciptanya kekacauan yang ektrim. Maka, untuk mengakhiri keributan tersebut, praktik kebebasan harus evaluasi kembali sampai tingkat tertentu. Inilah batas dan puncak kebebasan.
Prinsip liberalisme yang mendasari adalah bahwa manusia tidak boleh dibatasi apapun, kecuali memang dibutuhkan karna inilah ajaran yang paling fundamental dalam liberalisme. Peran dari ketiga pilar budaya barat telah membentuk bangunan yang sangat besar dan memainkan peran signifikan dalam perumusan dan pembuatan hukum. Kiranya ini menjadi perhatian kita bersama sebagai bangsa timur yang harus waspada akan budaya barat yang sangat melenceng jauh dari akidah kita.
Muhammad Taqi Misbah Yazdi, Freedom: The Unstated Facts And Points, Al-Huda, Jakarta, 2006
