Penyakit tidak akan ada yang tahu datangnya kapan, dimana, dan sedang apa, tesis ini sepertinya agak sama dengan ajal manusia yang tidak kita ketahui kapan akan tiba waktunya. Berawal dari pembalut wanita, tanpa kita sadari kurang lebih lima belas ribu lembar pembalut dipakai wanita semasa hidup. Ini sama dengan juga lima belas ribu kali wanita beresiko terkena kanker serviks.
Di Indonesia setiap jam, satu wanita meninggal akibat kanker serviks, di Asia Pasifik setiap empat menit, dan di dunia setiap satu menit.

Di Indonesia sebanyak 58 juta wanita mempunyai resiko terkena kanker serviks pada usia lima belas tahun sampai lima puluh tahun. Tetapi yang paling tinggi beresiko terkena kanker serviks pada usia 40 tahun, karena seringnya berganti pasangan, daya tahan tubuh menurun dan pola makan yang kurang teratur.
Kasus kanker serviks dari tahun ke tahun selalu mengalami peningkatan. Di Indonesia setiap jam seorang wanita meninggal akibat penyakit tersebut. Sedangkan di Asia Pasifik dalam setiap empat menit terhadap satu wanita yang meninggal, bahkan didunia setiap satu menit seorang wanita meninggal dunia karena kanker serviks.

Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia Jogja, Yamini Fitriyati, mengatakan 99,7% kanker serviks disebabkan oleh Human Papilloma Virus (HPV). Penyebab infeksi HPV ini, diketahui paling banyak berasal dari pemakaian pembalut yang tidak sehat. Tiga penyebab kanker serviks yaitu 10% lemahnya system imun, 30 % hidup yang kurang higienis dan 62% pemakaiannya pembalut yang tidak sehat, ucap dia malam seminar kesehatan di Universitas Islam Negeri Yogyakarta, sabtu (15/10).

Menurut beliau, pembalut kualitas rendah dibuat dari bahan daur ulang, seperti bahan baru dengan proses kimiawi. Proses kimiawi tersebut menghasilkan dioxin atau zat beracun hasil proses kimiawi. Zat tersebut merupakan zat yang dapat memicu kanker serviks.
Menyadari bahaya kanker serviks, masyarakat duharapkan berperan aktif melakukan pencegahan. Yasmin mengatakan ada tiga pencegahan yaitu primer (menghindari kontak dengan konsinogen), sekunder (melakukan deteksi dini) dan tersier (pengobatan). Tes mudah ciri pembalut, ambil isinya dan masukkan ke dalam air, pembalut yang baik tidak membuat keruh air dan bagian pembalut yang seperti kapas dan tidak mudah hancur seperti bubur.
Selain itu, imbuh dia, wanita juga dihimbau tidak berganti-ganti pasangan, tidak melakukan hubungan badan pada usia kurang dari 20 tahun, rajin melakukan pemeriksaan dini dan memelihara kesehatan tubuh.

Selain itu mengusahakan daerah organ wanita cukup oksigen dan menggunakan pembalut yang berkualitas alami.
Dalam seminar hasil kerja sama Departemen Kesehatan, Ikatan Bidan Indonesia, Fakultas kedokteran UII dan PT. Greenlite di DIY, Thamrin Selamet, Duta Kanker Indonesia berpesan, “Agar organ wanita cukup oksigen, hindari pakaian yang tidak higenis dan ketat. Wanita harusnya jeli dalam memilih pembalut. Wanita jangan merasa malas mengeluarkan biaya lebih demi organ kewanitaanya,” ucap dia.
Mengetahui bahayanya kanker serviks, diharapkan pihak Pemerintah, Lsm dan Instansi untuk menyadarkan masyarakat baik melalui penyuluhan, seminar, maupun pelatihan kesehatan.


 
Top